Petir.

Kilatan cahaya itu menari-nari dilangit. Segumal awan hitam mengiringinya dengan lambat. Dan teriakan itu pun terdengar lantang. Membuatku menoleh… Kutatap dengan sinis… Kilatan cahaya itu kembali menari-nari. Awan pekat itu masih setia mengiringinya. Kali ini musik yang terdengar adalah gemericik air yang saling berpacu menyentuh tanah. Kutatap dia… dia yang membasuh dahagaku dalam pengap jiwaku. Kutatap dengan iba. Dia… dia hanya menunduk tanpa menghiraukanku. Keping jiwanya jatuh berderai bersama hujan. Perlahan dia melangkah pergi… semakin jauh mengikuti irama aliran air. Aku hanya menatapnya. Tidak memanggilnya, apalagi mengejarnya. Karena dia akan datang lagi padaku. Aku yakin. Petir takkan mampu mengambilnya dariku. Dia pergi hanya sebentar. Sebentar… Sebentar lagi… dia akan datang bantahku. Awan pekat memudar. Menghilang seiring kepergian air mengikuti alur bumi.

Dedicated : to you.. who give me a wonderful night. last night.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • Tumblr
  • RSS

About tulank

sedang belajar tentang manajemen, desain, pemasaran, internet, komputer, wirausaha, politik, dan google. :)
This entry was posted in Sendiri and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>