Hujan gerimis mengantarku pulang dari sebuah diskusi di belakang toko buku Togamas. Klo baca sms dari dadap sih acara launching buku. Tapi peserta yang hadir tidak terlelu banyak sehingga acara menjadi sebuah diskusi yang santai. Buku yang dibahas berjudul “Bali tanpa Bali” karya ibed Surgana Yuga dan I Ngurah Suryawan menyubang wacana sela dalam buku tersebut.
Desain sampul bukunya cukup menarik dengan dominasi warna hijau yang bergambarkan laki-laki tua yang menggunakan udeng dan tersemat bunga pucuk (kembang sepatu) berwarna merah.
Sekilas menelisik isi buku yang berlego dengan harga Rp.30.000 plus diskon Rp.5.000 itu cukup menarik karena penulis mengelar kegelisahan diri, fenomena dan peristiwa menyangkut Bali dalam esai yang ditulis antara tahun 2004-2007. Menjadi menarik bagi saya, karena saya pun memiliki sedikit kemiripan latar belakang dengan penulis. Dimana penulis merupakan pemuda “Bali” yang merantau kepulau seberang untuk menuntut ilmu. Di rantau penulis mengalami Culture Shock atau mungkin lebih tepat Identity Shock. Ternyata embel-embel “nak Bali” (orang bali-red) menjadi sesuatu yang “wah” diluar Bali(Pulau Bali)-red. Padahal ketika masih berada di Bali hal itu tidak pernah menjadi aneh atau menggangu (seperti bulu mata yang tiba-tiba rontok dan membuat kelilipan). Dirantau pula penulis mulai bisa melihat Bali dari luar dan mempertanyakan (atau mungkin dipertanyakan oleh lingkungan sekitar!!) tentang Bali sebagai sebuah obyek dan bukan subyek. Sama seperti yang saya rasakan dulu ketika kuliah di Jogja (bedanya penulis berbakat menulis dan bisa menghasilkan buku,saya tidak. hehehe).
Acara diskusi berlangsung cukup seru karena banyak peserta belum membaca buku tersebut, sehingga bahan diskusi adalah fenomena dan perisatiwa mengenai Bali belakangan ini (ada beberapa buku juga yang bertopik serupa, coba cek di Search Engine ato Toko buku terdekat) dengan berbagai dari sudut pandang peserta. Diskusi semakin riuh berkat panduanĀ si* Tomo (si=mas, bli, bang, atau bung) sebagai moderator dan tentu saja teh panas dan gorengan yang melimpah.
Tapi itu hanyalah diskusi, obrolan ringan, atau apalah namanya. Sebuah proses dalam mengawal eksistensi. (kata “rekan seperjuangan” sebelah, eksistensi hanya kiasan nominal angka). Huahahaha….hemmm.. (tertawa sampai mengantuk). Selamat tidur “Bali”.

4 Comments
jadi lah Orang Bali di Bali…
bukan begitu?
yoih.. eksistensi kadan berjalan beriringan dengan nominal angka.
he.3
wah menarik kayaknya.
Bisa dibeli dimana ya?
wuih, bebek jeg mekacakan bukune nok. hajar terus bek!