Sebuah catatan GOLPUT dari TPS 25 Sidakarya.

Hari ini, Bangun siang karena tadi pagi nonton pertandingan ‘the reds’ VS ‘the blues’ yang berakhir dengan kemenangan dramatis ‘the blues’ 3-1 setelah sempat tertinggal 1-0 diawal babak pertama.
Setelah sarapan dan mandi tidak lupa mengenakan baju ‘Vote‘ untuk menunaikan hak sebagai warga negara dalam proses pemilu legislatif. Jam 11.00 meluncur ke TPS 25 yang terletak di SPPH tepat diseberang SMUN 5 Denpasar. Sampai disana teman-teman bermain dari kecil sedang berkumpul dan mengobrol selepas melakukan pencontrengan. Langsung menuju meja pendaftaran dan sedikit kesulitan karena tidak membawa undangan pemilu karena memang saya tidak dapat. Dirumah yang dapat cuma bapak dan adik yang sudah tinggal bersama suaminya. Setelah ikut mencari-cari nama saya bersama petugas akhirnya ketemu dan ternyata nama saya ada dalam DPT. Langsung masuk bilik karena TPS 25 sudah sepi dari pemilih. Setelah mencontreng dengan sedikit kebingungan akhirnya keempat kertas suara saya masukan kedalam kotaknya masing-masing.

Setelah selesai, saya keluar dan mengobrol dengan teman-teman lama yang masih mengobrol didepan TPS. Obrolannya sudah jelas massih berkisar pemilu dan aktivitas harian masing-masing. Pukul 12.20 penghitungan suara dimulai. Saya tertarik mengamati penghitungan suara karena beberapa teman juga aktif menjadi saksi beberapa parpol dengan imbalan yang lumayan untuk 1 hari kerja. Berkisar antara Rp.100.000 sampai Rp.200.000 per saksi.

Dari 339 DPT,hanya 184 orang yang menggunakan hak pilihnya di TPS 25 atau sekitar 51%. Hal ini bisa dikarenakan banyaknya warga yang pindah tempat tinggal atau menggunakan hak pilihnya ditempat lain karena sebagian besar warga adalah pendatang yang kemungkinan juga terdaftar didaerah asal mereka.Selain Tentu saja warga yang masuk kedalam golongan putih yang dengan sengaja tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislatif kali ini.

Proses penghitungan suara dimulai dari DPR-RI. Yang saya amati adalah berapa suara yang tidak sah untuk mengetahui berapa banyak golput yang menunjukan pilihannya sebagai golput. Hasilnya, dari 184 kertas suara terdapat 7 suara yang tidak sah diantaranya karena tidak dicontreng dan dicontreng diluar ketentuan KPU. Dilanjutkan dengan penghitunag suara DPD yang kertas suaranya terdapat photo-photo tokoh yang berlomba menjadi wakil daerah Bali di Senayan. Hasilnya sangat mengejutkan saya karena jumlah suara tidak sah bertambah menjadi 18 suara. Hal ini mencerminkan pemasangan photo tidak membuat warga lebih mengenal para calon dan akhirnya memilih mereka. Jadi kesimpulan saya dari penghitungan suara DPD, publikasi para calon DPD dengan menggunakan gambar diri melalui baliho-baliho dijalanan tidak akan efektif jika mereka tidak punya karya dan program nyata yang menyentuh langsung masyarakat. Padahal mereka akan menjadi perpanjangan suara rakyat Bali di senayan.

Ini hanya cerita singkat dari 1 TPS dan analis pribadi saya tentang pemilu legislatif 2009. Jumlah angka pemilih yang golput hanya sebagai cerminan seberapa tepat dan kredible sistem pemilihan umum. Jika angkanya tinggi, mungkin ada yang salah dengan sistem politik dan pemilu dan mari kita sama-sama perbaiki.

This entry was posted in Review, Sekitar kita and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

4 Comments

  1. Posted April 10, 2009 at 5:18 am | Permalink

    Pemilu oh Pemilu…

    btw, aku nggak ikut nyontreng.. abisnya nggak didaftar sih.. nasibku sama dengan banyak pendatang lain di Bali.. hampir semuanya tidak terdaftar, termasuk temen-temen kosku (sekitar 20-an orang), temen-temen kantor (30-an orang).. dan mungkin lebih banyak lagi di luar sono..

  2. Posted April 11, 2009 at 2:42 pm | Permalink

    aduh, sayang banged aku telat baca tulisanmu, gus. kalo tau dari awal kan bisa aku colong. hehe..

    tulisanmu lengkap nok. sajan..

  3. Posted April 17, 2009 at 11:29 am | Permalink

    orang suker mengan pulpen,,,

    pa lagi nyontrengnya g boleh lewat kotak yang kecil-kecil gitu

  4. Posted May 6, 2009 at 4:00 am | Permalink

    kelihatannya tingkat golput semakin meningkat nih, semoga caleg dan elite politik sadar dengan kondisi ini, bahwa sistem politik selama ini belum berjalan sebagai mana mestinya.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>