Buku Kopi Merah Putih (obrolan pahit manis Indonesia)

cover Kopi Merah Putih

cover Kopi Merah Putih

Malam ini kopdar mini dengan temen-temen BBC sekalian nyoba tempat nongkrong di Denpasar. Kali ini memilih emper toko jalan thamrin Denpasar,  tepatnya sebelah utara bioskop wisata yang menyediakan menu nasi jenggo dan ada penjual satenya juga. Tempatnya lumayan rame, karena merpukan jalur padat di Denpasar (arah menuju jalan Gajahmada). Keberadaan komplek pertokoan, dekat dengan pasar dan bioskop membuat keramaian bervariasi dari pedagang, pengunjung, dan abegeh yang bergandengan tangan. Setelah menyantap makanan khas malam Denpasar (nasi jenggo dan teh manis), temen-temen BBC meneruskan obrolan ditrotoar pinggir jalan karena tempat makan yang terbatas sehingga menggangu pengunjung lain kalau kami berlama-lama ngobrol disana. Peserta yang hadir saya absen dulu : Anton M, Lode, Bani, Novan, Ikha, MeQ, Bli Nyoman Suardana, dan Chris+nyonya (klo gak salah namanya Endang?!). Obrolan santai seputar keseharian dan rencana kegiatan BBC. Masih untuk kegiatan “berbagi tak pernah rugi”

Hampir pukul sepuluh, si Bani mulai berteriak, “yah, pulang yah.. capek..” dengan ekspresi memelas. Akhirnya, kopdar minipun bubar jalan. Namun, karena jadwal malam ini bergadang saya pun menuju tempat penampungan terakhir yaitu rumah pak de yanuar (dirumah ini juga ada arie dan bowo). Sampai disana, seperti biasa disuguhi kopi dan pengiringnya plus bir dingin yang bikin malam ini makin lengkap :D . Tapi pak de Yanuar juga menyodorkan sebuah buku yang menurut beliu buku bagus kiriman dari Om Enda. Isinya ringan mengelitik dan mengena seperti rambaknya Mas Hendra WS BOC. Hmmm.. jadi inget makan siang pake rambak :) .

Tiga jam berlalu, buku kecil ini pun habis saya baca. Sedikit bocoran isi bukunya :

Mengapa banyak para profesional muda — termasuk teman-teman kami — yang walaupun punya gaji sangat lumayan, tetap terlilit hutang kartu kredit? Kok bisa? Bukankah kalau mau mereka bisa melunasi tagihan setiap bulannya?

Semua orang tahu bahwa lulusan universitas top akan lebih mudah mendapat pekerjaan dibanding universitas tak terkenal. Lalu bagaimana nasib kita kalau kita sudah terlanjur lulus dari universitas tak terkenal dan sampai sekarang masih menganggur? Harus bagaimana kita?

Bicara soal HIV/AIDS, seorang teman berkata: “HIV/AIDS ditularkan melalui hubungan seksual atau melalui jarum suntik yang terkontaminasi. Selama saya dan keluarga saya lurus-lurus saja, HIV tidak akan jadi masalah saya toh?”. Jawabannya ternyata ada di cerita teman kami yang lain: Ia dikejutkan berita bahwa beberapa karyawan di kantornya tertular tuberkulosis (TBC). Tuberkulosis dan HIV/AIDS? Lho, apa hubungannya?

Dan memang benar, tepat seperti promosi pak de buku ini begitu ringan walau dengan persentase data, diagram dan anislis teknis namun isinya begitu dekat begitu nyata (slogan iklan??). Buku setebal 181 halaman ini, menyajikan kita dan permasalahan seputar kita (Indonesia). Kita?? Iya kita. Judulnya selalu menggunakan kata “kita”. Kita dan bla.. bla.. bla.. huah hampir setiap judul/bahasan/bab membahas hal yang sering kita bahas, alami, dan pikirkan. Ketika kita berbicara tentang Indonesia kata “kita” adalah padanan yang tepat karena kita tidak bisa menunjuk orang lain tanpa menunjuk diri sendir. Jadi membaca buku ini seolah kita bercermin, mengobrol dan bermain dengan hiruk-pikuk hidup di Indonesia yang kita cintai. Dengan sentuhan data, diagram, dan percobaan namun tetap dengan cubitan mesra yang membuat kita senyum-senyum sendiri membuat buku ini layak mendapat 5 bintang. Salute to the writer : KITA

-Viva blogger Indonesia-

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • Tumblr
  • RSS

About tulank

sedang belajar tentang manajemen, desain, pemasaran, internet, komputer, wirausaha, politik, dan google. :)
This entry was posted in Review, Sekitar kita and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Buku Kopi Merah Putih (obrolan pahit manis Indonesia)

  1. Yanuar says:

    Quote yang Cantik..
    “Jadi membaca buku ini seolah kita bercermin, mengobrol dan bermain dengan hiruk-pikuk hidup di Indonesia yang kita cintai.”

  2. chris budhi says:

    jadi kesimpulannya logo bajunya kayak ini gus ?

  3. lodegen says:

    silih bukune, gus. idenya menarik

  4. Budi says:

    Setuju dgn Bung Yanuar. Quotenya bagus.
    Saya juga sudah baca bukunya. Bagus banget. Gak rugi deh utk baca…

  5. wi3nd says:

    belum baca bukun aneeh..
    nti tak browsin9 duLu yaa .. :)

    mkaasi infona

  6. wira says:

    tetap dukung BBC khusus untuk pelatihan IT di guwang… sementara masih dukung dengan doa..

  7. a! says:

    cari ah bukunya di gramedia. sepertinya menarik. sapa tau terinspirasi bikin buku sejenis. kopi tabrak tubruk. :D

  8. dirgantara says:

    sempet disodorin juga kemaren sama Pak De Yanuar,

    baru baca yang cerita pertama tentang Listrik itu saja saya sudah tertarik, mau pinjam tapi lupa ngambil kemaren….wkwkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>