Pe(r)ubahan Iklim & Usaha Adaptasi

Senin 27 Oktober 2009, Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim mengadakan Seminar yang bertajuk  ‘Adaptasi terhadap Perubahan Iklim di Kepulauan dan Pesisir dalam Kerangka Pembangunan Berkelanjutan. Seminar ini diadakan di Hotel Puri Dalem Sanur yang dihadiri oleh Aktivis lingkungan (LSM), Wakil pemerintahan, Wartawan, Perwakilan masyarakat dan Pemimpin agama. Dalam seminar ini pemakalah memberikan pemaparan apa itu perubahan iklim, penyeban, dampak serta usaha-usaha untuk menanggulanginya.

Saya tidak akan membicarakan topik tentang bahasan seminar itu karena banyak sumber lain yang lebih valid mengenai perubahan iklim, pemanasan global dan tema terkait. Salah satunya disini.

Dalam seminar itu seorang pembicara yang merupakan dosen jurusan meteorologi membuat simulasi tenatang dampak peningkatan permukaan laut terhadap pulau Bali. dari hasil simulasi tersebut diperkirakan pada tahun 2035  Nusa dua yang terletak di Bali selatan akan terpisah dengan karena bagian penghubung dengan denpasar akan tenggelam. (Dari peta yang tampak dislide, bagian yang tenggelam adalah seputar jalan Bypass ngurah Rai Tuban). Pulau serangan (kalau masih bisa disebut pulau) akan tergenang air laut. Dari simulasi yang dibuat tersebut membuat saya berpikir untuk segera pindah rumah (tampaknya daerah Sidakarya juga akan tergenang air laut).

Dalam menghadapi perubahan iklim ada 2 hal yang menjadi konsen pemerintah dan LSM lingkungan yaitu usah mitgasi dan adaptasi. Mitigasi adalah proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif bencana yang akan terjadi. Adaptasi adalah usaha penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi. Contoh adaptasi :

underwear evolution for global warming adaptation

underwear evolution for global warming adaptation

Hal ini membuat saya teringat tentang diskusi dengan sorang teman tentang penyelamat Lingkungan. Dalam diskusi itu, topik yang menghangat adalah tentang doktrin agama (kitab suci) yang menyatakan hidup terdiri dari 3 fase yang bertautan yaitu lahir, hidup, dan mati. Juga doktrin tentang hari kiamat bagi bumi dan umat manusia. Dengan berlandaskan pada doktrin-doktrin agama tersebut, usaha penyelamata lingkungan tampak seperti ‘usaha mengulur-ulur waktu’ untuk menunda kematian bumi atau kiamat. Sebuah pemaparan yang jika kita pahami secara dangkal akan mendorong pesimisme untuk penyelamatan lingkungan. Sebagaimana kita ketahui doktrin agama masih menjadi landasan yang paling kuat untuk memotivasi manusia (berlaku hanya untuk orang yang percaya dan memeluk agama). Orang berbuat baik dan menolong sesama karena ingin masuk surga sesuai doktrin agama. Orang juga bisa melakukan apa saja demi agamanya,  misal tokoh perlawanan dengan anti kekerasan (Gandhi). Orang juga bisa juga menjadi pembunuh atas dasar agama(orang yang mebunuh Gandhi). Sedemikian pengaruh doktrin agama sehingga mampu mendorong orang untuk bertindak. Terbersit pertanyaan dalam benak saya ‘Bagaimana jika kita revisi dulu kitab suci dan doktrin-doktrin agama yang ada tentang kiamat agar umat manusia lebih terpacu untuk melestarikan lingkungan?’ Hehehe.. Untung saya tidak sempat mengajukan pertanyaan ini dalam seminar tersebut.

Terlepas dari pesimisme penyelamatan lingkungan. Saya lebih prihatin dengan keadilan lingkungan. Berbagai kasus yang sering kita dengar dan lihat adalah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi didaerah Kalimantan dan Sumatra. Bencana itu terjadi sebagian besar karena ulah para pembalak hutan yang menebang pohon dengan semena-mena. Dan yang menjadi korban adalah masyarakat yang tinggal di hilir atau kaki bukit. Para cukong pembalak liar yang menikmati hasil penjualan kayu itu tentu tidak terkena dampak dari bencana karena mereka umumnya tinggal di kota besar jauh dari lokasi pembalakan. Dan itu menurut saya sangat tidak adil. Bagaimana jika para pembalak liar terutama cukong dan oknum pelindungnya dituntut dengan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati, karena tindakan mereka lambat-laun akan membawa bencana dan kematian bagi warga yang tidak bersalah. *malah kesana-kemari topiknya.

Balik ke topik adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Untuk usaha mitigasi tampaknya lebih didominasi oleh pemerintah karena ini menyangkut kebijakan dan kemitraan global (terkait credit carbon). Saya sebagai warga biasa hanya bisa berusaha beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi misal dengan membuka baju kalau kepanasan.. (yang ini bercanda, sumpah!) :p

This entry was posted in Review, Sekitar kita and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Categories

    • No categories
  • Archives