
Judul postingnya pake bahasa Inggris, tapi isinya tetep bahasa Indonesia dong. Hehehe.. Bukan bermaksud gaya-gayaan pake judul bahasa Inggris, namun memang istilah above and below the line tidak saya temukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia.
Istilah above and below the line berangkat dari dunia akuntansi yang terkait dengan pemasaran produk. Dikenal dua istilah yaitu above the line (ATL) dan below the line (BTL). ATL berlaku bagi kegiatan pemasaran yang kena komisi biro iklan. Ini dimasukkan dalam ‘cost of sales’ dan dikurangi sebelum ditentukan gross profit. BTL untuk kegiatan pemasaran non iklan yang tidak kena komisi. Biayanya dimasukkan dalam biaya operasional dan dikurangi sebelum ditentukan net profit. Nah bingung kan? Sama saya juga
Untuk memudahkan banyak tulisan di internet menjelasakan perbedaan ATL dan BTL sebagai berikut :
Above the line (ATL) : Target audiens luas. Lebih untuk menjelaskan sebuah konsep atau ide. Tidak ada interaksi langsung dengan audiens, misalnya kampanye melalui TV, Radio, Majalah, koran, billboard.
Below the line (BTL) : Target audiens terbatas. Media atau kegiatannya memberikan audiens kesempatan untuk merasakan, menyentuh atau berinteraksi, bahkan langsung action membeli, misal melalui Event, Sponsorship, Sampling, Point-of-Sale (POS) materials, Consumer promotion, Trade promotion, dll
Secara ‘kasar’ dapat disimpulkan : ATL lebih bersifat pencitraan melalui media tanpa interaksi 2 arah antara target audience dengan produk/perusahaan. Sedangkan BTL lebih bersifat experience dan interaksi 2 arah antara target audience dengan produk/perusahaan.
Nah bagaimana dengan media kampanye yang merupakan kombinasi antara ATL dan BTL (internet dan iklan di majalah dengan sampling produk) ? Dengan berkembangnya media dan cara kampanye memunculkan istilah baru yaitu Through the Line ( TTL). Dimana TTL dapat diterjemahkan sebagai campuran ATL dan BTL digunakan untuk mengintegrasikan usaha-usaha pemasar dan mengoptimalkan keuntungan dari investasi yang terpisah tersebut.
Istilah ATL, BTL, dan TTL membuat saya tertarik menulis artikel ini karena secara teori isitilah ini sering sekali digunakan dalam dunia akuntansi, manajemen, pemasaran dan periklanan. Namun saya juga sering mengamati bagaimana ATL, BTL dan TTL diterapkan dalam dunia desain komunikasi visual dan kampanye non komersial seperti aksi demo mahasiswa dan LSM. Nah, kok bisa? Bersambung…
The Line dalan Desain Komunikasi Visual.
The Line dalan Kampanye Sosial (Non Komersial).
*Disarikan secara paksa dari :
http://en.wikipedia.org/
http://amaliamaulana.com/
http://www.businessdictionary.com/definition/below-the-line.html













beratnya postinganmu Om Jus, aku gak mudeng-mudeng