Jaje uli jaje gina
Menyambut seperempat abad kehadiran ku di bumi. Sedikit melihat kebelakang dan berandai-andai. Judul tulisan kali ini biasanya berlantu dengan “Jaje uli jaje gina. Satuh..Satuh..” “Ngelah t**i anggo gena? Kat**!, Kat**!”. Namun untuk tulisan saya ini akan sedikit beda “Jaje uli jaje gina.” “Yen di Bali kel dadi apa?”
Kita mulai ketika 7 tahun lalu ketika memutuskan untuk kuliah ke Jogjakarta yang sempat jadi-gak-jadi karena ketika saat itu sebuah kepusan diambil lebih banyak pertimabngan emosional ketimbang logika. Ketika memutuskan masuk kelas IPS dan dengan percaya diriĀ akan bisa melanjutkan ke Fakultas Ekonomi UGM.
Saat itu saya memang memuja UGM, walaupun tidak tahu iklim dan kondisi kampus UGM di Jogja seperti apa. Namun, branding UGM begitu kuat diotak, sehingga waktu itu dengan sombong berkata ” UGM here I came“. Kebetulan didukung orang tua karena menurut mereka dengan jauh dari rumah saya bisa belajar mandiri. Setelah bimbel buat UMPTN dan beradaptasi 3 minggu di Jogja, dapet kabar kalau saya diterima PMDK di kampus negeri di Bali. Langsung memutuskan pulang dan mengambil PMDK tersebut. Eh ketika sampe di Bali, kenangan cinlok pas bimbel dengan seorang gadis dayak yang kata temen-temen mirip ladya cheryl membuat gak betah di Bali. Temen-temen pada sibuk bimbel, luntang-lantung ga ada temen gradang-grudung. Ditengah kebimbangan akhirnya memtuskan ikut UMPTN dan melepas PMDK dengan pilihan pertama tetep FE UGM. Setelah UMPTN, hasrat merantau ke Jogja semakin menggebu-gebu. Berangkat lagi, dengan alasan mencari cadangan kalau tidak diterima UMPTN. Dan, daftar di UAJY merupakan sebuah kebetulan, diluar rencana, iseng dan tak terduga. Pengumuman UMPTN “Selamat anda diterima di (kode kampus). Setelah mencocokan kode kampus, ternyata bukan di UGM melainkan kampus di Bali itu. Hah.. Haruskan aku pulang dan menerima pinangan kedua dari kampus itu. Tidak, saya masih berharap untuk bisa kuliah di UGM, daftar D3 FE UGM gak diterima juga. Bingung karena cita-cita tidak kesampaian, akhirnya dengan dukungan orang tua dan rasa cinta Jogja membuat saya berjudi dengan tetap kuliah di Jogja walaupun bukan di UGM. Fiuh.. then, time goes on..
Sekarang jika saya berandai-andai, jika saya pulang ke Bali dan menerima pinangan kampus di bukit itu, saya tidak akan jadi seperti sekarang. Saya akan jadi sarjana ekonomi dengan dukungan finansial penuh agar tidak kalah gengsi dengan teman-teman. Minimal, kuliah naek mobil (Civic LX atau Katana GX), Handphone uptodate, Wardrove by surfing clothing company, dll. Pacar, mungkin temen kuliah yang nak Bali dan skeptis dengan cewek yang non Bali. Malam minggu rutin mengunjungi club-club malam atau minimal nongkrong didepan warung 24 jam sambil atao sekali-kali masuk cafe remang-remang. Hhmm.. Setelah lulus ya ikut CPNS dan mengusahakan uang pelicin agar bisa jadi PNS. SK keluar, bawa ke Bank pinjem uang buat ganti mobil dan berharap bisa dapet wanita yang lain. Hahahaha.. Dan menikah muda karena beling malu (hamil duluan).
Yah itu cuma perandaian. Bisa ya, bisa tidak. Apakah dengan kuliah di Jogja membuat hidup saya sekarang lebih baik? Tergantung.. Dan saya mensyukuri semua yang sudah terjadi dan menjadikan saya seperti sekarang. Sudah hampir seperempat abad nih.. Harus menyiapakan revolusi akhir tahun dan rencana 5 tahun kedepan. I could be someone.
Another Jaje Uli & Jaje Begina















if you did what you want to, embrace the results whatever it is. there are always hidden gems
‘Setelah lulus ya ikut CPNS dan mengusahakan uang pelicin agar bisa jadi PNS’
> Ugh ! Saya tertusuk Tepat di jantung !!!!
@ anima : you exactly damn right XD
@ pandebaik : yah, itu kan cuma perandaian bli. (*rahasia kita bersama) jangan bilang siapa-sipa ya.
itu kan perandaian boz. semuanya tergantung cara kita menyikapinya.
tapi salut nie sama semangatnya!
oiya, al kebahagiaan, kita yang memilihnya sendiri. syukur maksud saya bukan pasrah, karena banyak orang yang menganggap syukur itu cuma pasrah. syukuri hal-hal baik yang kita punya dan terus berjuang. kunci kebahagiaan ada di diri kita sendiri.
Nikmati yg bisa dinikmati gus …
.
Kadang jalan yg kita lalui gak selalu lurus mulus kayak paha ladya cheryl, bisa jadi berkelok-kelok dan memutar. Jadi nikmati prosesnya and say thanks God …
Met ultah na pak, mani main futsal buin kan?
“”"”"” tidak kalah gengsi dengan teman-teman. Minimal, kuliah naek mobil (Civic LX atau Katana GX), Handphone uptodate, Wardrove by surfing clothing company, dll. Pacar, mungkin temen kuliah yang nak Bali dan skeptis dengan cewek yang non Bali. Malam minggu rutin mengunjungi club-club malam atau minimal nongkrong didepan warung 24 jam sambil atao sekali-kali masuk cafe remang-remang ”””””’………………………????
perandaian yang ‘ …..
nah, apa gen dadi. yg penting nyanan makan2 suud futsal. hidup makan2!~!!
met ultah ya say.. semoga makin sukses lagi deh..
adi sing orahin ternyata kehidupan di jogja kaya apa………..
kalo di jogja mah pakenya KOPATA, bukana KATANA