Obesitas TV

On June 20, 2009 by gustulang

Benda terakhir yang aku sentuh sebelum tidur adalah remote TV. Benda pertama yang ku sentuh ketika bangun tidur adalah remote TV.  Hal itu seperti ritual rutinitas, walaupun kadang aku tak menyimak apa yang disiarkan. Kebanyakan yang aku simak adalah siaran berita, beritanya pun hampir sama dari pagi kemalam dengan narasi yang berbeda (untuk stasiun TV nasional).

Obesitas TV

Obesitas TV

Menonton TV tanpa kita sadari adalah kegiatan konsumsi (definisi ID dan EN). Secara bebas, saya mendifinisikan konsumsi sebagai kegiatan pemenuhan kebutuhan kita akan suatu hal, misal makan, pakaian, pendidikan dan informasi. Penonton dijejali dengan informasi-informasi dan paket hiburan yang tanpa kita sadari kita akan terus mengkonsumsi apa yang kita lihat. Sering kita dengar istilah TV junkie, dimana orang yang betah duduk didepan televisi berjam-jam den “melahap” habis setiap siaran TV, dan merasa ada yang kurang jika beberapa jam tidak menonton TV. Jika diumpakan dengan mengkonsumsi makanan,tanpa kita sadari, kita sudah menderita obesitas karena terlalu banyak mengkonsumsi TV. Dalam sebuah buku (saya lupa buku apa) ada kutipan menarik yang berbunyi “TV seperti permen karet/kudapan bagi mata kita”. Maknanya kita persepsikan sendiri-sendiri.. :p

Dalam kaitan dengan konsumsi, tentu saja ada produsen dan distributor.Diamana stasiun TV bisa berperan sebagai produsen dan juga distributor. Namun peran utamanya adalah distributor dengan contoh penayangan iklan. Karena dari sanalah pemasukan utama stasiun TV. Sebagai distributor, stasiun TV memiliki kemampuan untuk menyeleksi mana-mana saja yang produk yang akan mereka distribusikan dengan pertimbangan industri, politik, pendidikan, dan tanggung jawab sosial mereka (ideal-nya). Sinetron, infotaiment dan realiti show jika dilihat faktor industri-nya memiliki nilai jual (rating) yang tinggi sehingga nilai tukar iklan diseputar acara itu menjadi mahal. Tak heran produk-produk diatas menjadi primadona stasiun TV. Itu merupakan nafas mereka.

Namun pemegang keputusan tertinggi bukanlah para program manajer stasiun TV yang menentukan acara apa, kapan, dan berapa lama yang akan tayang di TV, bukan juga para pengiklan yang mengucurkan dana berlimpah untuk menyuarakan produknya. Kita (anda dan saya) yang berperan sebagai konsumen yang menentukan pilihan untuk mengkonsumsi acara apa, kapan dan berapa lama dari TV. Mari kita ber-diet TV agar tidak menderita obesitas TV.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • Tumblr
  • RSS

10 Responses to “Obesitas TV”

  • hmmmm…. secara pribadi saya siy memang bukan maniak teve. mungkin krena teve itu adanya cuma di ruang kluarga tok, bukan didalam kamar tidur. So, biasanya pada brebut nonton Sinetron, at last mending saya ditemani laptop buat ngblog, fesbuk-an atw malah melanjutkan cita-cita. He…

  • kalo saya bukan TVJunkie…tapi NetJunkie…serasa ada yang kurang kalo sehari ga ngenet….

    salam kenal bli gus…kapan2 ngobrol di angkringan sanglah bli….plus bersepeda bareng-bareng….

  • a!

    sebenarnya bukan TVnya yg harus kita benci. tp siarannya yg buruk. kalau nonton siaran berkualitas berjam-jam sih tidak masalah.

    bukan begitu, pak tulank? ;)

  • lgi2..minjem istilahnya navicla: televish*t! hehehe…

    skrng saia ud jarang nonton tipi…paling nonton kartun aja…hehehe…
    daripadanonton sinetron yang makin ga jelas dan reality show yg ga reality..mending ngeblog…hohoho

  • serba salah sih ngaturnya. Di satu sisi efek TV emang luar biasa merusak tapi disisi lain TV juga satu-satunya hiburan yang murah bagi rakyat.
    Satu-satunya harapan (yang sayangnya juga kurang bisa diharapkan) adalah ketegasan KPI menertibkan siaran TV.
    *salam kenal mas (atau mbak), nice posting*

  • saya sih cuma pas bangun pagi (lensa olahraga) dan sebelum tidur (bioskop …..)

    selainnya kayaknya saya mulai obesitas blog lagi nih..

  • “Benda pertama yang ku sentuh ketika bangun tidur adalah remote TV”
    Saya ndak yakin dengan pernyataan anda yang ini! pasti ada benda lain yang anda sentuh duluan sebelum remote tv, coba anda inget baik-baik lagi…

  • “tergantung cara kita menyikapinya aja”

    dengan menonton tv juga kita bisa menambah wawasan
    dengan menonton tv juga kita terjerumus ke hal² yg negatif
    ya menurutku gitu aja dech,,….. hehehehehe

  • kalo buku junkie ato movie junkie ada istilahnya??? wkwkkwkwkwkw…

    jarang nonton tv. siaran faforit mah spongebob yang hingga saat ini sudah diputer berulang kali. huehehehehhe….. tapi bung tulang tidak genduuut tuuuh nontoon tv.. tetep aja kurus layaknya.. ehm.. (disensor, he)

  • saya terpaksa harus nonton tv. kadang omongan dan perilaku si kecil ternyata niru di tv. ternyata efeknya memang berpotensi macem-macem.

    saya bingung dengan cara pengukuran rating tv.

    baru tv lokal saja, saya sudah bingung menentukan pilihan..kayaknya acara ini mirip dengan acara stasiun tv yang tadi. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>